Agen Bola

Mengenal Peran Direktur Sepak Bola, Pelatih dan Manajer

Bolaviking.com – Ada perbedaan antara hirarki sepak bola Eropa daratan dengan apa yang ada di Inggris, khususnya perihal fungsi dan peran pelatih, manajer dan direktur sepak bola. Berikut kami jelaskan perbedaannya.

Sistem hirarki sepak bola Inggris tidak mengenal yang namanya direktur sepak bola atau biasanya dikenal dengan sebutan Director of Football ataupun Sport Director dan lain-lain.

Berbeda dengan sistem sepak bola daratan, Inggris menyebut pelatih tim utama dengan sebutan manajer. Bukan hanya untuk keren-kerenan tetapi memang ada perbedaan peran di dalamnya. Manajer memupunyai lingkup kerja dan wewenang yang lebih besar.

Ambil contoh di Manchester United ataupun Arsenal sebelum pensiunnya Sir Alex Ferguson. Baik Ferguson maupun Arsene Wenger sama-sama berada dalam kategori manajer klasik khas sepak bola Inggris.

Mereka berwewenang untuk mengurusi transfer pemain dari yang masuk-keluar, menemui agen pemain hingga urusan kontrak pemain baru ataupun perpanjangan kontrak pemain yang sudah ada. Bahkan mereka sampai mempunyai wewenang mengubah struktur hirarki dalam konteks sepak bola.

Penunjukkan direktur akademi adalah bagian paling sahih dari besarnya wewenang manajer. Seperti yang terjadi di Liverpool bersama Rafael Benitez di tahun 2008 di mana ia menunjuk orang kepercayaannya Frank McParland dan Rodolfo Borrell untuk menangani dan mendikte ke arah mana akademi Liverpool akan berkembang.

Tentunya wewenang luas dari manajer tersebut tak lepas dari day-to-day basis seperti memimpin tim berlatih ataupun memberikan penjelasan taktik sebelum dan pada saat pertandingan.

Sedangkan struktur organisasi sepak bola Eropa lebih mendetil dengan dihadirkannya seorang berposisi sebagai direktur sepak bola. Klub-klub Eropa daratan secara umum menggunkan sistem hirarki seperti ini.

Direktur sepak bola (DoF) membuat peran ‘manajer’ menjadi lebih kecil, fokus dan tidak menyeluruh. DoF adalah orang kepercayaan jajaran direksi klub untuk menyelenggaran bisnis, menjadi penghubung dan bahkan tidak jarang lebih besar lagi.

Dalam sepak bola Eropa tak ada istilah manajer melainkan head coach atau pelatih kepala. Pelatih hanya fokus pada persiapan tim di hari pertandingan, mereka tidak mengurusi transfer – hal ini pula yang membuat sosok ‘pelatih’ jauh lebih paham mengenai taktik ketimbang manajer.

Contoh lain dalam kasus di atas adalah Ferguson yang dianggap memberikan kesempatan bagi para asistennya untuk memperiapkan taktik pertandingan, ia tidak ambil pusing dan berurusan dengan team-talk saja sebelum pertandingan – ada yang ingat hair-dryer treatment?

Dalam pertandingan di Europa League antara Tottenham kontra Benfica tiga musim lalu, pelatih The Eagles Jorge Jesus meledek manajer Spurs Tim Sherwood karena hanya memberi semangat tanpa instruksi taktik dari pinggir lapangan. “Orang Inggris itu tak mengerti taktik,” kata Jorge Jesus paska pertandingan.

Karena perbedaan tersebut itu pula bisa ditarik kesimpulan mengapa pelatih-pelatih Britania jarang ada yang tampil di luar Inggris. Hal itu disebabkan oleh tuntutan taktik yang lebih besar di Eropa daratan dan juga kecilnya peran mereka dalam hal transfer pemain.

Tentu situasi berbalik dengan pelatih yang terbiasa dengan sistem direktur sepak bola. Baru-baru ini Jurgen Klopp secara gamblang menyatakan melalui agennya bahwa ia mencari tim baru dengan DoF dalam hirarki karena tak mau berurusan dengan transfer pemain dan cukup fokus dalam urusan di atas lapangan.

Dalam datang yang dilasir oleh UEFA, Inggris hanya mempunyai 1.395 pelatih yang memiliki kualifikasi kepelatihan UEFA A dan UEFA Pro. Jumlah itu adalah yang terkecil dibanding Jerman 6.934, Italia 2.281, Prancis 3.308 dan Spanyol dengan jumlah terbanyak 15.423.

Peran DoF bisa menjadi sangat besar di sepak bola Eropa kontinental. Di klub Spanyol Sevilla sebagai contohnya, Monchi sang DoF, mempunyai peran besar hingga penunjukan pelatih anyar di klubnya selain melakukan aktivitas transfer menyeluruh dari tim senior hingga akademi.

Di Jerman sistem hirarki sepak bolanya pun demikian mirip dengan Spanyol, tetapi lain lagi di Italia. Seorang DoF hanya berperan menjalankan hal-hal yang jauh mendetil seperti penunjukkan staf pelatih tim utama dan junior.

Di Italia, di jajaran direksi pun bisa mempunyai peran besar dalam urusan transfer. Ambil contoh Andriano Galliani di AC Milan yang menjabat sebagai CEO atau eks direktur manajer Internazionale Marco Branca yang ditugasi menyelesaikan proses transfer pemain.

Namun seiring hadirnya globalisasi yang juga terjadi di Eropa, klub-klub Inggris mulai beradaptasi dengan memberikan peran DoF di struktur direksi. DoF di sini selain mempunyai peran transfer tapi juga sebagai penghubung bagi para pemilik klub yang rata-rata hanya mengerti bisnis bukan sepak bola.

Pemilik kaya raya di Manchester City tidak mengerti sepak bola, tapi mereka mendatangkan dua sosok penting kesuksesan Barcelona beberapa waktu lalu dalam diri Ferran Soriano dan Txiki Begiristain sebagai direktur eksekutif dan DoF untuk menjadi orang kepercayaan mereka menjalankan bisnis di Etihad Stadium.

Kehadiran DoF ini memang seakan dua mata pedang, di satu sisi DoF mampu membuat pelatih lebih fokus pada performa tim di lapangan tetapi di sisi lain pemain-pemain yang didatangkan oleh DoF belum tentu cocok dengan skema yang diinginkan pelatih.

Belum lagi kemungkinan bentroknya peran antara pelatih dan DoF yang merasa mempunyai wewenang lebih atas tim, yang bisa mengganggu keharmonisan suatu tim.

Kesimpulannya adalah bahwa DoF bisa ditempatkan dalam suatu struktur hirarki dalam klub sepak bola apabila terjadi komunikasi yang berkala dengan pelatih/manajer untuk mengidentifikasi masing-masing peran yang dimiliki agar tidak tumpang tindih. Karena bisa menjadi pembeda antara kegagalan dan kesuksesan.