Agen Bola

Sejarah Arsene Wenger Dari Jepang Ke London

Berita Bola – Arsene Wenger berpikir keras di apartemennya yang berada di Nagoya, Jepang, 20 tahun lalu. Pria kelahiran Strasbourg, Perancis itu mendapatkan tawaran yang membuatnya harus berpikir dengan cermat di apartemennya tersebut.

Kala itu Arsene Wenger yang masih berusia 47 tahun mendapatkan tawaran dari Inggris untuk melatih klub asal London, Arsenal. Ia diminta sahabatnya, David Dein, untuk mengganti Bruce Rioch yang dipecat Arsenal sebagai manajer.

“Saya berada di titik yang berbahaya, dan harus membuat sebuah keputusan. Saat itu saya merasa jika tidak kembali [ke Eropa] sekarang, saya akan tinggal selamanya di Jepang,” ujar Wenger mengenang kisah lamanya tersebut seperti dikutip dari The Guardian.

Wenger sudah sejak Desember 1994 berada di Jepang sebagai pelatih utama tim J-League, Nagoya Grampus Eight. Ia menerima kontrak dua musim dari tim tersebut. Sebelumnya, Wenger adalah juru taktik klub Perancis, AS Monaco (1987-1994) dan Nancy-Lorraine (1984-1987).

Ketika tawaran dari Dein datang, istri Wenger tengah mengandung putri mereka. Istri Wenger yang merupakan mantan pemain basket, Annie Brosterhous, rencananya akan menyusul Wenger ke Jepang.

Itulah yang kemudian membuat Wenger bingung. Apakah dia tetap di Jepang atau menerima tawaran Dein.

Di belahan dunia lain, di London, Dein harus menghadapi keberangan dewan direksi Arsenal. Para anggota dewan direksi mempertanyakan gagasan Dein yang kini menjadi wakil direktur Arsenal untuk merekrut Wenger.

Dein yang merupakan sahabat Wenger itu yakin juru taktik yang karier sepak bolanya berposisi sebagai gelandang akan menjadi manajer besar di Inggris.

Bersama AS Monaco, Wenger dinilai mampu membawa tim tersebut ke jajaran elite termasuk dengan menjuarai Ligue 1 musim 1987/88 dan Piala Perancis 1990/91. Di Jepang, Wenger pun mampu membawa tim yang terpuruk di dasar sebelum dia datang berhasil menjadi juara Piala Kaisar 1995 dan Piala Super J-League 1996.

Keputusan pun dibuat. Wenger menerima tawaran Dein, dan dewan direksi menerima gagasan Dein. Namun, ketakutan bukan hanya milik Wenger ataupun dewan direksi. Di ruang ganti, diakui mantan kapten Arsenal Tony Adams pun was-was ketika mengetahui juru taktik baru mereka.

“Ada ketakutan di semua orang, ketakutan akan perubahan,” kenang Adams.

Hal itu pun diakui Wenger ketika ia untuk kali pertama bertemu skuat Arsenal.

“Saya merasakan banyak yang skeptis. Itu normal, terutama di [negara] pulau. Ini fenomena yang kerap mengemuka di sebuah pulau karena orang-orangnya secara secara hidup lebih terisolasi. Mereka was-was dengan pengaruh asing,” ujar Wenger.

22 September 1996, tepat dua dekade lalu, untuk kali pertama Wenger diperkenalkan sebagai manajer baru Arsenal. Di Stadion Highbury, kandang Arsenal dulu. Wenger memperkenalkan dirinya sebelum resmi bekerja pada 1 Oktober 1996.

Betul kata Wenger. Skeptisme. Itulah yang muncul dalam pertanyaan-pertanyaan wartawan yang ditujukan kepadanya.

Termasuk Wenger, kala itu hanya ada dua manajer asing di Liga Inggris. Dia adalah gelandang internasional Belanda Ruud Gullit yang menjadi player-manager untuk Chelsea.

Dibandingkan Gullit yang populer bersama timnas Belanda dan sudah mengenal sepak bola Inggris, Wenger dinilai masih minim pengalaman dengan atmosfer negara asal sepak bola itu.

Tapi, Wenger berhasil mematahkan ketidakyakinan publik sepak bola Inggris atas dirinya.

Musim debut, Arsenal berhasil finis di tempat tertinggi sejak lima musim sebelumnya. Namun, hasil dari musim debut tersebut memberi Wenger pelajaran.

“Tim ini butuh lebih banyak tenaga dan [pemain] berlari cepat,” kata dia.

Arsenal berhasil mengangkangi Manchester United, dan menjadi juara dengan selisih angka sampai dengan 11 poin di tabel klasmen akhir.

Gagasan Dein berhasil. Tentu saja, Dein pun bangga karena hingga dua dekade, Wenger membantu tim itu mendapatkan keuntungan besar dari penjualan bintang berharga mahal.

Beberapa pemain bintang yang sukses dijual mahal adalah Cesc Fabregas ke Barcelona (35 juta pounds), Adebayor ke Manchester City (25 juta pounds), Nicolas Anelka ke Real Madrid (23 juta pounds), dan Robin van Persie ke Manchester United (22 juta pounds), dan Thierry Henry ke Barcelona (16,1 juta pounds).