Don't Miss
Agen Bola

Sekilas Tentang AVB dan Perannya Dalam Kesempurnaan Zenit

Majalah bola – Ada satu tim di Liga Champions yang dilupakan meski menorehkan hasil sempurna hingga matchday 5, mereka adalah Zenit St Petersburg. Tim asal Rusia yang menguasai Grup H dengan hasil lima kemenangan dari lima laga.

Tergabung bersama Gent (Belgia), Valencia (Spanyol) dan Lyon (Prancis), lupakan dalih yang menyebut Zenit tergabung di grup yang relatif mudah. Tim-tim tersebut merupakan tim yang mempunyai nama di negaranya masing-masing.

Gent masuk ke Grup H dengan status sebagai juara Liga Belgia, Lyon nyaris tampil sebagai juara Ligue 1 dan Valencia melengkapi kehadiran mereka di ranah tertinggi kompetisi Eropa dengan lolos impresif di La Liga juga kemenangannya atas Monaco di play-off.

Ander-Villas-Boas

Dari penjabaran kekuatan di atas, Zenit dari segi hitung-hitungan di atas kertas akan menghadapi lawan-lawan tangguh nan sepadan meskipun memang terbilang hijau dari panggung Liga Champions.

Inilah yang dimaksimalkan The Sky Blues untuk memantapkan langkah di fase grup hingga bisa menorehkan hasil yang lebih baik dari juara bertahan Barcelona, Real Madrid hingga Bayern Munich.

Kredit tersendiri patut disematkan kepada pelatih yang sempat dianggap gagal di Inggris, Andre Villas-Boas. Ia menyulap Zenit menjadi tim yang sangat efektif dalam bertahan dan menyerang. Dan sebenarnya yang harus lebih diperhatikan lagi adalah cara mantan orang kepercayaan Jose Mourinho ini dalam melihat sepak bola.

Kita tentu tidak bisa melupakan bagaimana ia membuat Porto meraih trebel pada 2011. Ia melampaui raihan gurunya sendiri di klub yang sama pada 2004. Namun, kesuksesan instan tersebut berefek bagai pedang bermata dua buat AVB. Ia mendapat reputasi yang membawanya ke Chelsea juga kenaifan khas seorang manajer muda.

Ander-Villas-Boas-2

Semua juga tahu ia gagal total di Stamford Bridge. Ia merasa tinggi di hadapan para pemain senior Chelsea. AVB ditendang karena dianggap naif secara taktik hingga membuat John Terry dan Petr Cech kelabakan akibat menerapkan strategi menyerang dan penguasaan bola yang menuntut tingginya garis pertahanan The Blues.

Saya jadi teringat dengan pembicaraan bersama satu rekan, “AVB adalah ‘mata’ dari Jose Mourinho. Ia berbicara bahasa Inggris yang lebih baik, memainkan permainan menyerang terlebih lagi ia masih sangat muda [33 tahun].” Analisis yang brilian, terhadap salah satu pelatih favorit saya ini.

Namun yang patut digaris bawahi adalah, AVB sudah menunjukkan potensi luar biasa dengan diangkat menjadi asisten di usia 20 tahun oleh Sir Bobby Robson di Porto dan menjadi pelatih kepala di level sepak bola tertinggi meski tak punya pengalaman sebagai pemain profesional.

Ya, ia punya potensi besar. Tapi membesut Chelsea di masa peralihan tanpa pengalaman yang cukup membuatnya mendapat rapor merah. Ia dipecat dari Stamford Bridge dan melangkah ke Tottenham di mana ia menjadikan Gareth Bale sebagai pemain termahal di dunia pada 2013.

Ander-Villas-Boas-3

Akan tetapi, seakan tak belajar, Villas-Boas kembali dilengserkan sebagai pelatih kepala. Lagi-lagi ia dianggap naif karena taktiknya tidak membuat para pemain mengeluarkan potensi terbaik. Mungkin setelah itu ia kapok, dan memutuskan untuk berkarier jauh dari ingar-bingar; Rusia.

Di sinilah ia berubah matang dan menunjukkan potensi terbaiknya. AVB menjadi jauh lebih pragmatis, dan lebih mengedepankan hasil. Perubahan ini berdampak negatif pula dengan banyaknya fans Zenit yang sebenarnya meminta manajemen mengganti pria asal Portugal karena dinilai terlalu pragmatis.

Zenit di bawah kendalinya bermain bertahan dan sering menang dengan skor-skor tipis, yang membuat banyak fans jengah. Meski pada faktanya, AVB mengantarkan gelar juara Rusia kelima bagi sepanjang sejarah bagi tim yang disokong oleh perusahaan hasil bumi Gazporm ini.

Serangan balik, pragmatisme dan mengedepankan hasil ketimbang filosofi semata di atas lapangan membuat Villas-Boas meraih kejayaannya kembali. Pencapaian Zenit yang meraih hasil sempurna di Liga Champions lewat sentuhan emasnya merupakan bukti kematangannya menangani sebuah tim.

AVB dipastikan akan mundur akhir musim nanti, menyusul fakta bahwa ia tinggal di hotel dalam dua tahun terakhir dan keluarganya masih berada di Portugal, dan hampir dipastikan siap kembali ke Eropa daratan setelah dua tahun terakhir bertapa di suhu dingin Rusia.

Baik tim asal Spanyol, Italia ataupun Inggris akan dengan senang hati mendapatkan tanda tangan pelatih yang kini masih berusia 36 tahun dan sudah mempunyai pengalaman segudang melalui proses panjang yang tak mudah.

Anda seharusnya sudah siap menyambut kembali AVB versi 2.0, yang berjongkok di pinggir lapangan, jika ia ditunjuk menangani tim kesayangan Anda di masa depan.